Berikut ini bukan faktor yang menentukan kesiapan menikah yaitu

Hidup berkeluarga tidak selamanya mulus. Pola hidup di masa lajang dan saat berkeluarga akan berubah sehingga kesiapan mental penting sebelum menikah.

Danang Nur Ihsan - Solopos.com
Minggu, 10 Mei 2020 - 01:59 WIB

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pasangan muda (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan situs siapnikah.org untuk mengetahui kesiapan menikah bagi calon pengantin.

Lewat situs ini, semua orang bisa mengecek seberapa siap menikah atau membangun rumah tangga dan apa saja persiapan yang dibutuhkan?

Menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, ada 10 dimensi kesiapan berkeluarga yang harus menjadi perhatian calon pasangan. Berikut 10 kesiapan menikah versi BKKBN sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, beberapa waktu lalu.

Kesiapan Usia

Usia ideal minimal 25 tahun bagi laki-laki dan minimal 21 tahun bagi perempuan. Angka 25 tahun dan 21 tahun ini tidak ditentukan asal-asalan, tapi berdasar riset panjang.

Tiru Malaikat, Aplikasi Raqib Atid Catat Pahala dan Dosa Pengguna

Berdasarkan riset, seseorang secara fisik, psikologis, hingga finansial, lebih siap masuk ke jenjang pernikahan dibandingkan jika dia menikah di usia sebelum itu.

Kesiapan Fisik

Berkeluarga butuh kesiapan fisik, untuk bekerja mencari nafkah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hingga melakukan aktivitas seksual.

Karena itu, jika kamu memiliki riwayat penyakit seperti darah rendah, darah tinggi, hepatitis, atau penyakit menular seksual, harus berobat dulu sebelum menikah. Supaya kamu dan pasanganmu benar-benar fit dan siap membangun keluarga berkualitas.

Kesiapan Finansial

Uang memang bukan segala-galanya, tapi untuk menjalankan roda rumah tangga pasti membutuhkan uang. Karena itu, dalam merencanakan pernikahan, persiapan finansial juga diperlukan.

Sederhana! Harga Kacamata Youtuber Klaten Ucup Cuma Rp25.000

Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, persiapan kehamilan, perawatan anak, bahkan hingga biaya pendidikan anak. Karena itu, pastikan sebelum menikah kamu sudah memiliki sumber pendapatan tetap, misalnya pekerjaan sebagai karyawan atau berwirausaha.

Setidaknya, saat berkeluarga, kita bisa mandiri secara finansial, tidak membebani atau tergantung pada orang tua atau keluarga lainnya.

Kesiapan Mental

Hidup berkeluarga tidak selamanya mulus atau indah seperti saat masih pacaran. Terkadang ada hal yang tidak sesuai harapan. Sifat pasangan, kondisi ekonomi pasangan, sikap mertua dan keluarga besar, termasuk tantangan mendidik anak di era digital.

Pola hidup di masa lajang dan saat berkeluarga juga akan berubah. Semuanya butuh kesiapan mental.

Kesiapan Emosi

Nah ini juga penting. Coba kamu ingat, bagaimana responsmu saat menghadapi tekanan. Misalnya, saat menghadapi deadline pekerjaan, saat tersinggung dengan ucapan atau perilaku orang lain, atau saat debat karena beda pendapat.

Tak Pakai Masker di Banyumas Bisa Dihukum Pidana

Jika kamu masih suka berteriak, marah-marah, sampai melempar barang ketika berbeda pendapat, maka kamu harus belajar mengelola emosi dulu sebelum menikah.

Kesiapan Sosial

Manusia tidak hanya makhluk individual, tapi juga sosial. Karena itu, kemampuan bersosialisasi sangat penting dalam kehidupan keluarga. Bersosialisasi dengan teman-teman pasangan, dengan lingkungan yang baru, maupun dalam organisasi.

Mengasah jiwa kerelawanan sosial juga bisa menjadi bekal berharga sebelum masuk jenjang pernikahan.

Kesiapan Moral

Moralitas berlaku universal, apa pun agamanya. Kesiapan moral sangat penting untuk mengontrol perilaku agar dalam berkeluarga bisa memegang etika.

Simpel, Begini Cara Pencairan Insentif Kartu Prakerja Lewat Ovo

Misalnya, menaati perintah Tuhan Yang Maha Kuasa, berlaku jujur, bersabar kala menghadapi ujian, hingga tidak menggunakan barang milik orang lain tanpa izin.

Kesiapan Interpersonal

Kemampuan interpersonal ini terkait dengan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan interpersonal akan bisa menjadi pendengar yang baik saat orang lain curhat, berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang, hingga mampu berdiskusi dan mendengar pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan.

Keterampilan Hidup

Keterampilan sangat dibutuhkan dalam hidup. Ketika berkeluarga, keterampilan itu makin dibutuhkan. Misalnya, keterampilan dasar seperti merapikan dan membersihkan rumah, memasak, mengasuh dan mendidik anak, menjalankan peran suami/istri.

Tak Perlu Obat, Ini Cara Meredakan Saat Kepala saat Puasa

Merawat organ reproduksi hingga pengetahuan alat kontrasepsi untuk pengaturan jarak kehamilan juga menjadi keterampilan yang harus dimiliki.

Kesiapan Intelektual

Dalam berkeluarga, kemampuan intelektual bisa tercermin dari aktivitas pencarian informasi seputar kehidupan keluarga. Jika kamu sudah mencari informasi untuk mendapat pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, pola hidup sehat, dan lainnya, maka kamu sudah memiliki bekal berharga sebelum menikah.

4 Perusahaan di Klaten Tak Sunat THR Karyawan, Tapi Dicicil

Dari 10 pedoman itu, bagaimana kira-kira kesiapan Anda mennika? Sudah yakin siap atau masih ragu-ragu? Nah biar pasti kamu bisa mengisi kuisioner di laman siapnikah.org. Setelah mengisi kuisioner nanti Anda akan diberi skor dan rekomendasi tentang kesiapan menikah.

tirto.id - Menikah butuh persiapan fisik, mental, dan finansial. Dua pasangan yang akan menikah tak hanya butuh cinta, tetapi harus ada komitmen dan persiapan matang, karena kehidupan pernikahan sebenarnya akan terjadi setelah sah di mata hukum dan agama, bukan hanya saat pesta saja.

Jika Anda ingin menikah, alangkah baiknya mengunjungi terlebih dahulu situs siapnikah.org. yang diluncurkan oleh Badan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dalam situs tersebut Anda dapat mengoreksi diri sendiri, apakah Anda sudah siap untuk menikah?

Dilansir Indonesia.go.id, membangun keluarga harus memiliki 3 tujuan utama:

1. Membangun ketahanan dan kualitas balita dan anak dalam memenuhi tumbuh kembangnya.

2. Membangun ketahanan keluarga remaja dan kualitas remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga.

3. Meningkatkan kualitas lansia dan pemberdayaan keluarga rentan sehingga mampu berperan dalam kehidupan keluarga, dan terwujudnya pemberdayaan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Takaran kesiapan pernikahan akan berbeda-beda, kembali pada setiap pribadi masing-masing. Namun menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo terdapat 10 dimensi yang perlu disiapkan sebelum pernikahan demi terbentuknya keluarga yang berkualitas.

1. Kesiapan usia

Usia menjadi salah satu tolok ukur seseorang siap untuk menikah. Berdasarkan riset panjang yang telah dilakukan, usia ideal untuk menikah bagi laki-laki minimal 25 tahun dan bagi perempuan minimal 21 tahun.

2. Kesiapan fisik

Setelah pernikahan, kehidupan tidak akan menjadi milik sendiri karena sudah menjadi keluarga bersama dengan pasangan Anda. Tentunya, harus siap mencari nafkah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hingga melakukan aktivitas seksual.

Sebaiknya lakukan medical check up pranikah, agar mengerti tentang pasangan Anda sehingga tercipta keluarga yang berkualitas.

3. Kesiapan finansial

Ukuran keluarga bahagia dan berkualitas memang tidak terpatok pada nominal rupiah. Namun berpikir logis dalam suatu hubungan sangat diperlukan. Roda kehidupan rumah tangga akan terus berjalan, sehingga keperluan mendasar hingga masa depan seperti biaya anak perlu dipikirkan sebelum pernikahan.

4. Kesiapan mental

Pernikahan tak selalu berjalan dengan mulus seperti apa yang dirasakan semasa pacaran. Permasalahan rumah tangga sangat banyak sehingga memerlukan kesiapan mental untuk menghadapinya.

5. Kesiapan emosi

Apakah Anda orang yang mudah emosi? Jika jawabannya iya, Anda harus mulai mengontrolnya sejak sebelum pernikahan. Anda juga harus melihat pasangan Anda saat ia marah dan pertimbangkan apakah Anda bisa menerimanya untuk seumur hidup.

6. Kesiapan sosial

Setelah menikah, Anda akan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tentunya dengan orang-orang yang baru seperti keluarga besar pasangan, teman pasangan, hingga organisasi baru yang Anda harus ikuti.

7. Kesiapan moral

Moralitas sangatlah penting bagi suatu keluarga, apapun agamanya. Jika sudah memiliki anak, Anda sebaiknya mengajarkan moral pada anak dan keluarga.

8. Kesiapan interpersonal

Hal ini berkaitan dengan orang lain. Sebelum menikah pastikan Anda mampu berinteraksi dengan orang yang berlatar belakang berbeda, karena Anda juga akan masuk ke keluarga pasangan. Terlebih kehidupan Anda kini bersama dengan pasangan yang akan terus bertukar pikir untuk membangun rumah tangga.

9. Keterampilan hidup

Contoh keterampilan hidup seperti membersihkan rumah, memasak, mengasuh anak, serta menjalankan kewajiban sebagai suami/istri/orang tua. Bahkan merawat organ reproduksi hingga pengetahuan alat kontrasepsi untuk pengaturan jarak kehamilan juga menjadi keterampilan yang harus dimiliki sebelum menikah.

10. Kesiapan intelektual

Kemampuan intelektual tercermin dari aktivitas pencarian informasi seputar kehidupan keluarga.

Namun, selain 10 dimensi kesiapan pernikahan, di masa pandemi ini Anda harus mengetahui bahwa Kemenag menyediakan layanan pendaftaran nikah online. Hal ini dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) demi mencegah penyebaran wabah virus corona.

Baca juga:

  • Menikah Secara Sederhana di Tengah Pandemi
  • Pernikahan Dini, Kawin Tua, & Kapan Usia Menikah Ideal?

Baca juga artikel terkait MENIKAH atau tulisan menarik lainnya Maria Nanda Ayu Saputri
(tirto.id - ayu/dip)


Penulis: Maria Nanda Ayu Saputri
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Kontributor: Maria Nanda Ayu Saputri

Subscribe for updates Unsubscribe from updates

Video yang berhubungan

Postingan terbaru

LIHAT SEMUA