Apa yang dimaksud dengan ayat qauliyah dan ayat kauniyah


Konsep yang populer tentang pembagian ayat Allah adalah ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Pembagian ini semakin populer setelah Konferensi Internasional Pendidikan Islam pada 1977 di Makkah. Ayat qauliyah adalah ayat yang turun dari Allah SWT berupa wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, sementara ayat kauniyah adalah ciptaan Allah yaitu manusia dan alam semesta. Pembagian seperti ini tak obahnya memposisikan keberadaan manusia dan alam semesta dalam posisi yang sama, pada hal manusia memiliki posisi eksistensial yang amat berbeda. Al-Qur`an sendiri memosisikan secara mencolok antara manusia dan alam semesta. Jika alam disebut sebagai khalq (ciptaan), maka manusia tidak saja disebut sebagai khalq tapi juga 'abd (hamba), khalifah (pemimpin, wakil) dan sebutan-sebutan lainnya yang melambangkan keunggulan manusia, misalnya muttaqin, muhsinin, mukhlishin, 'ibad ar-rahman, dan lain-lain. 

Di sisi lain, Al-Qur`an menyebutkan bahwa Allah SWT memuliakan manusia. Posisi lebih mulia dari makhluk lain ini wajar sekali karena manusia yang memiliki nafs (jiwa) ini satu-satunya makhluk yang ditiupkan spirit suci (ruh) oleh Allah sehingga manusia layak menjadi khalifah Allah di muka bumi. Manusia dengan demikian, memiliki unsur jasadiah/jismiyah, nafsiah dan ruhaniah. Malaikat hanya memiliki unsur ruhiyah. Setan hanya memiliki unsur nafsiah. Sementara makhluk pisik selain manusia hanya memiliki unsur jasadiah dan nafsiah. Atribut ini menunjukkan superioritas manusia terhadap makhluk lain.

Agaknya demikian inilah antara lain yang menjadi alasan, mengapa Kuntowijoyo membagi ayat Allah itu kepada tiga, yaitu ayat qauliyah, nafsiah dan kauniyah. Al-Qur`an sendiri  misalnya pada surat Fussilat ayat 53 menegaskan bahwa ayat-ayat Allah itu ada di segenap penjuru alam semesta dan pada diri manusia sendiri. Sementara di tempat lain, Allah menegaskan bahwa Al-Qur`an yang sampai kepada kita disebut juga ayat Allah yang menjadi petunjuk dan pengajaran bagi manusia.

Paradigma teoantropoekosentris menggunakan pembagian Kuntowijoyo dalam mengklasifikasi ayat-ayat Allah dengan sebutan yang sedikit berbeda yaitu ayat ilahiyah, ayat insaniyah dan ayat kauniyah. Dari sinilah kemudian diambil istilah al-ilahiyah, al-insaniyah dan al-kauniyah. Selanjutnya dengan mengambil istilah keilmuan Yunani Kuno, diterjemahkan menjadi teoantropoekosentris. Terjemahan versi Yunani Kuno ini menurut Profesor Ibrahim Siregar diharapkan semakin memudahkan upaya internasionalisasi konsep dan istilah paradigma keilmuan IAIN Padangsidimpuan ini.

Secara filosofis, ketiga bentuk ayat dimaksud tidak mungkin bertentangan karena sama-sama bersumber dari Allah Yang Maha Esa (Allahu Ahad). Fungsinya juga sama yaitu sama-sama menjelaskan Kemahabesaran Allah SWT. Oleh karena itu, jika narasi keilmuan yang keluar dari ketiga ayat yang menjadi objek ilmu tersebut tampak bertentangan, maka sesungguhnya penarasian keilmuan manusialah yang salah (something wrong).*** 

__________________________________ 

Foto: Wisuda Sarjana dan Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan 27/10/2020.

Page 2

Ayat kauliyah adalah ayat ayat yang terdapat dalam al quran sedangkan ayat kauniyah adalah ayat ayat Allah yang tersebar di Alam, maksudnya ayat ayat tersebut adalah tanda bahwasanya allah itu ada dan memberikan tanda tanda tersebut berupa kitab Allah dan ciptaannya.

good luck

Allah menurunkan dua jenis tanda kepada manusia agar mereka bisa mengenal Allah dan selalu mengingat-Nya. Pertama adalah ayat-ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat yang telah difirmankan Allah secara langsung yang terhimpun dalam mushaf Al-Quran. Kedua adalah ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah selain yang terdapat dalam Al-Quran. Ayat-ayat kauniyah ini bisa berupa alam semesta beserta fenomena alam yang terjadi di dalamnya.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 164, ternyata Allah telah memberi tahu kepada manusia untuk mengingat Allah melalu ayat-ayat kauniyah-Nya. Ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 164 tersebut bukan berarti tanda-tanda kebesaran Allah hanya terbatas pada penjelasan di dalam surat. Melainkan sebagai sebuah contoh dan isyarat agar manusia mengerti akan kebesaran dan kekuasaan Allah. Isyarat-isyarat tersebut hanya bisa dijangkau oleh manusia yang mau bertafakur.

Baca juga: Merenungi Tanda-Tanda Kekuasaan Allah di Surat Ar-Rum ayat 20-25

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 164: enam ayat kauniyah Allah

Sebelum masuk kepada penjelasan tafsir, berikut ini adalah lafadz Surat Al-Baqarah ayat 164:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Menurut penafsiran Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsir al-Qur’an as-Sa’di dan juga di dalam Tafsir Kemenag, terdapat 6 kandungan ayat kauniyah yang Allah jelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 164 tersebut. Adapun 6 ayat kauniyah tersebut adalah:

Pertama, Allah menciptakan langit yang dapat kita lihat sekarang ini dengan keluasannya serta aneka ragam isinya seperti bintang-bintang, matahari yang menjadi pusat tatasurya, bulan yang peredarannya menajadi patokan penanggalan manusia, dan segala benda langit yang mempunyai maslahat manusia. Kemudian Allah menciptakan bumi sebagai hamparan yang cocok untuk ditinggali manusia, yang mana juga terdapat gunung-gunung, lautan, hutan-hutan, sungai-sungai dan segala sesuatu di dumi yang juga untuk keperluan manusia.

Baca juga: Ketahui Manfaat Gunung Sebagai Pasak Bumi, Ini Penjelasannya dalam Al Quran

Kedua, pergantian siang dan malam yang dengan teratur silih berganti, tidak pernah terlambat sedikitpun. Tidak ada malam yang mendahului siang dan begitu pula sebaliknya seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Yasin ayat 40. Di beberapa tempat belahan bumi Allah juga kuasa mengatur waktu lamanya siang ataupun malam. Adakalanya siang lebih lama daripada malam, begitu juga sebaliknya.

Ketiga, melajunya kapal-kapal di lautan dengan bentuk yang begitu besar, membawa beratus-ratus ton barang dan hal yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya. Laut dapat menjadi satu jalan transportasi manusia. Bahkan di sepanjang periode peradaban manusia, laut telah menjadi jalur transportasi utama yang biasa kita kenal dengan jalur sutra.

Keempat, diturunkannya hujan dari langit. Air hujan ini hakikat aslinya membawa kebermanfaatan bagi manusia. Air hujan menyebabkan tumbuhanya tanaman-tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Selain itu, ketika turun hujan, airnya ini tertampung ke dalam sumber-sumber mata air yang kemudian dialirkan melalui sungai kanal dan pipa-pipa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia.

Untuk penafsiran ayat kauniyah yang kelima, terdapat perbedaan antara Tafsir as-Sa’di dan Tafsir Kemenag. Dalam Tafsir as-Sa’di, kandungan ayat kauniyah yang kelima adalah berhembusnya angin, baik angin panas atau dingin, baik yang bertiup ke timur maupun barat, ataupun ke selatan dan utara sesuai dengan kebutuhan manusia. Namun dalam Tafsir Kemenag, ayat kauniyah kelima ini diartikan sebagai hewan. Allah telah menciptakan binatang-binatang baik yang di darat maupun di laut yang semuanya tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.

Baca juga: Inilah Empat Manfaat Hujan dalam Al Quran

Dalam menafsirkan kandungan ayat kauniyah yang keenam, antara Tafsir as-Sa’di dan Tafsir Kemenag juga berbeda. Menurut as-Sa’di, ayat kauniyah yang keenam adalah awan yang berada di antara langit dan bumi. Wujudnya yang berpindah-pindah di suatu daerah ke daerah lain agar dapat menurunkan hujan di sini dan tidak turun hujan di daerah lain sesuai kehendak Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sementara dalam Tafsir Kemenag, ayat kauniyah yang keenam adalah perihal angin. Angin membawa tanda-tanda bagi peristiwa alam yang lain seperti akan turunnya hujan. Angin juga dapat membawa kabar untuk suatu peristiwa alam yang menakutkan dan dapat membinasakan umat manusia.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Adhim menuturkan bahwa asbabun nuzul ayat ini adalah jawaban untuk orang kafir Quraisy atas tantangan mereka kepada Rasulullah agar menunjukkan keajaiban yang paling mustahil. Allah pun sebenarnya sanggup untuk membuat semua itu terjadi sebagai sebuah adzab bagi mereka yang tidak mau beriman. Namun, karena kelembutan hati Rasulullah, beliau meminta agar Allah tidak mengadzab kaumnya dan memilih untuk terus berdakwah setiap hari meskipun banyak penolakan dari kaumnya.

Hikmah enam ayat kauniyah

Dari enam ayat kauniyah yang terkandung dalam Surat Al-Baqarah ayat 164, terdapat hikmah yang bisa dipetik manusia. Pertama, ayat-ayat kauniyah di langit dan di bumi menegaskan tentang wujud Allah sebagai Rabb (Pengatur) dan Ilah (Tuhan) yang memiliki sifat sempurna dan suci dari semua kekurangan. Allah lah yang menciptakan dan merajai seluruh alam, serta bertanggung jawab atas kehidupan yang terdapat di dalamnya. Mulai dari yang paling besar hingga yang kasat mata. Dalam teori emanasi Alfarabi dan Ibnu Sina, seluruh alam ini pada hakikatnya adalah manifestasi dari sifat tajjalli Allah SWT.

Hikmah kedua adalah adanya penetapan ayat tanzilah qur’aniyah (ayat Al-Quran) bahwa Allah adalah Rabb dan Ilah manusia serta menetapkan kenabian Rasulullah sebagai utusannya di muka bumi. Sedangkan hikmah ketiga adalah semua ayat-ayat kauniyah tersebut hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya dan bagi mereka mau berfikir akan kuasa Allah. Penjelasan tersebut senada dengan Qurais Shihab dalam Tafsir al-Misbah bahwa dengan hadirnya ayat-ayat kauniyah, apalagi telah difirmankan Allah sendiri semestinya manusia benar-benar mengamati akan bisa meraba adanya kekuasaan Allah di balik semua itu. Wallahu a’lam[]

Video yang berhubungan

Postingan terbaru

LIHAT SEMUA