Bagaimana alquran menjelaskan tentang terbentuknya galaksi

Teori big bang dikuatkan teoris sains modern.

msmcgartland.pbworks.com

Alam semesta (ilustrasi)

Rep: Imas Damayanti Red: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Alquran tak hanya membahas perkara akhlak dan ibadah individual hambanya saja, lebih dari itu, ilmu sains juga termaktub di dalamnya. Salah satu sains yang diabadikan dalam Alquran adalah mengenai alam semesta yang terus mengembang, luas tak berujung.

Baca Juga

Dalam buku Mukjizat Alquran karya Pakar Tafsir Terkemuka, Quraish Shihab, Alquran juga mengisyaratkan mengenai asal-usul alam semesta, yakni isyarat bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan. Allah SWT berfirman: “Awalam yara ladzina kafaruu anna-samawati wal-ardha kanata ratqan fafataqnahuma, wa ja’alana minal-ma-i kulla syai’in hayyin, afala yu’minun,”.

Yang artinya: “Tidakkah orang-orang kafir memerhatikan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu yang padu (gumpalan). Kemudian Kami memisahkannya dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”

Alquran memang tidak menjelaskan bagaimana terjadinya pemisahan tersebut, tetapi apa yang dikemukakan tentang keterpaduan alam raya dalam pemisahannya itu dibenarkan oleh observasi para ilmuwan.

Secara padanan bahasa, kata ‘Kami’ merupakan perwakilan dari kehendak Allah dan campur tangan unsur ciptaan-Nya atas perintahNya. Namun ketika redaksi Alquran menggunakan kata ‘Aku’, maka Allah menggunakan ‘tanganNya’ sendiri dalam menciptakan sesuatu.

Dalam ayat di atas, Allah menggunakan padanan ‘Kami’, yang artinya terdapat beragam unsur yang mengiringi penciptaan tersebut. Misalnya dalam observasi Edwin Hubble pada 1929 menunjukkan adanya pemuaian alam semesta.

Hal ini merujuk pada kebenaran bahwa alam semesta itu berekspansi sebagaimana yang tertuang pada Alquran surat adz-Dzariyat ayat 47 berbunyi: “Wa sama-a banaynaha biaydin wa inna lamursalun.” Yang artinya: “Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskan/mengembangkannya,”.

Karena sifat langit atau alam semesta yang ekspansif, fisikawan asal Rusia George Gamow menilai terdapat sekitar 100 miliar galaksi yang masing-masing memiliki rata-rata 100 miliar bintang. Tetapi jika ditarik ke belakang, semua benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya itu merupakan satu gumpalan yang terdiri dari neutron. Belakangan, gumpalan itu meledak dengan ledakan besar dan dikenal sebagai teori big bang.

Keabsahan teori ini bahkan diterima hampir seluruh ilmuwan sains modern hingga hari ini. Bahkan ilmuwan sains asal Inggris Stepehen Hawking telah cukup lama menghabiskan masa hidupnya untuk meneliti tentang big bang dan lubang hitam (black hole).

Bagaimana alquran menjelaskan tentang terbentuknya galaksi

Professor Stephen Hawking menyampaikan makalah 'Why We Should Go Into Space' di The George Washington University, Washington.DC, (21/4/2008).

Dari ledakan inilah kemudian dikenal istilah teori the expanding universe. Menurut teori ini, alam semesta bersifat seperti balon atau gelembung karet yang sedang ditiup ke segala arah. Adapun langit yang kita lihat saat ini sebenarnya semakin tinggi dan semakin mengembang ke segala arah dengan kecepatan yang luar biasa.

Teori ini jauh-jauh hari telah diisyaratkan dalam Alquran surah al-Ghasyiyah ayat 17-18: “Afala yanzuruna ilal-ibili kaifa khuliqat. Wa ila-sama-i kayfa rufia’at.”  Yang artinya: “Tidakkah mereka memerhatikan bagaimana unta diciptakan dan langit ditinggikan?”.

Dalam buku A Brief History of Time karya Stephen Hawking disebutkan, pada 1920-an ketika para ahli astronomi mulai mengamati spektrum bintang-bintang di galaksi lain ditemukan suatu hal yang aneh. Yakni set warna yang hilang dari bintang-bintang di galaksi kita (Bima Sakti/Milky Way Galaxy) dan kesemuanya bergeser ke arah ujung merah dalam spektrum.

Setelah dilakukan sejumlah penelitian, para ilmuwan beranggapan bahwa pergeseran cahaya bintang itu akibat adanya pergerakan galaksi-galaksi yang ada. Namun belakangan secara mengejutkan diketahui, seluruh galaksi justru bergerak menjauhi galaksi kita. Artinya secara singkat, alam semesta memang mengembang.

Hawking menyebut bahwa makin jauh suatu galaksi dari jarak galaksi kita, maka pergerakannya menjauh begitu cepat. Yang artinya, alam semesta tak bisa statis dan sedang mengembang yang mengakibatkan jarak antar-berbagai galaksi selalu berubah.

Dari sekian banyak penelitian sains dari era kontemporer hingga modern, tak ada sedikitpun yang melenceng dari apa yang diisyaratkan Alquran. Padahal Alquran diturunkan sejak masa-masa sebelumnya atau berabad-abad lalu atau tepatnya pada 27 Oktober 632 Masehi. Sehingga hal ini membuktikan bahwa Alquran bukanlah karangan manusia melainkan sabda Yang Mahakuasa, Allah SWT.

  • big bang
  • teori big bang
  • big bang Alquran
  • alquran big bang

Bagaimana alquran menjelaskan tentang terbentuknya galaksi

Bagaimana alquran menjelaskan tentang terbentuknya galaksi

Alam semesta adalah suatu hamparan atau ruangan yang sangat luas yang tak di ketahui atau tak dapat di bayangkan luasnya. alam semesta diduga bentuknya melengkung dan dalam keadaan memuai serta terdiri atas galaksi-galaksi atau sistem bintang yang jumlahnya ribuan.

Bumi adalah salah satu bagian dari alam semesta ini. maka tak heran terciptanya bumi ini berhubungan erat dengan terbentuknya alam semesta.
berikut adalah teori-teori yang menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta menurut ilmu sains ( para ahli sains) dan menurut Al- Qur`an.

beberapa teori para ahli :
Teori Ledakan Besar
Enstein adalah orang yang mempopulerkan teori ini.teori ini didasarkan pada penelitian yang ditemukan bahwa alam semesta ini mengembang,seluruh planet dan bintang terus bergerak saling menjauhi seolah-olah berasal dari satu tempat yang sama.
pada tahun 1915 Enstein menyempurnakan teorinya tentang relativitas,yang kemudian ia terapkan dalam pendistribusian zat di ruang angkasa. kemudian tahun 1917 ada massa bahan yang hampir seragam dimana keseimbanganya tak menentu antara kekuatan gravitasi dan kekuatan dorong kosmis lain yang tak dikenal. semua ini kemudian dapat dipecahkan pada tahun 1922 oleh ahli fisika dari rusia. ia mengatakan bahwa kekuatan tolak tak berpengaruh, bahkan seluruh alam semesta terus mengembang dan bergerak saling menjauhi dengan keceptan tinggi.

Teori kant - Laplace
sejak jaman sebelum masehi,para ahli telah banyak berfikir dan menganalisis tentang gejala-gejala yang terjdi di alam. Mulai abad 18 para ahli telah memikirkan tentang proses terjadinya bumi. salah satunya adalah teori kabut (nebula) yang dikemukakan Immanuel Kant (1755) dan Piere de Laplace (1796) yang keudian terkenal dengan teori Kant - Laplace. dalam teori ini dekemukakan bahwa alam semesta terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut ( nebula ). gaya tarik menarik antar gas ini kemudian membentuk kabut yang sangat besar dan berputar semakin cepat. dalam proses perputaran yang sangat cepat ini, kabut bagian katulistiwa terlempar memisah dan memadat ( karena pendinginan ). bagian inilah yang membentuk planet-planet di alam semseta.

Dari beberapa teori para ahli di atas kemudian para ahli astronomi terus berusaha memecahkan teori terbentuknya alam semesta. hingga pada era modern ini para ahli astronomi baik dari segi pengamatan maupun teori dengan jelas mengungkapkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa `gumpalan asap` (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari peninggalan `gumpalan asap` semacam itu.

Bagaimana alquran menjelaskan tentang terbentuknya galaksi

Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan peninggalan dari `asap` yang menjadi asal kejadian alam semesta. (The Space Atlas, Heather dan Henbest, hal. 50)

Bagaimana alquran menjelaskan tentang terbentuknya galaksi

Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam gumpalan tersebut. (Horizons, Exploring the Universe, Seeds, gambar 9, dari Association of Universities for Research in Astronomy, Inc.)

Jauh sebelum para ahli dapat menemukan teori tersebut, Allah telah memberi tau manusia tentang kejadian terbentuknaya alam semesta melalui ayat-ayatnya yang di muat dalam Al Qur`an.

``Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya {27} Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya {28} dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang {29} Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya {30} Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya {31} Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh {32} (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu {33}``

(Q.S. An-Nazi`at: 27-33)

Bintang-bintang yang berkilauan yang kita lihat di malam hari, sebagaimana seluruh alam semesta, dulunya berupa materi `asap` semacam itu. Allah telah berfirman di dalam Al Qur`an:

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,... (Al Fushshiilat, 41: 11)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari `gumpalan asap` yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari `asap` yang homogen ini. Allah telah berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiya, 21:30)

Dr. Alfred Kroner adalah salah satu ahli ilmu bumi terkemuka. Ia adalah Profesor geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman. Ia berkata: ``Jika menilik tempat asal Muhammad... Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya.`` Ia juga berkata: ``Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu.``

sumber: alasttka | misykatulanwar

Baca Juga - Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa

Kirim ke teman | Versi cetak